Selasa, 15 Januari 2013
faktor yang paling mempengaruhi prilaku konsumen indonesia
Faktor Yang Paling Mempengaruhi Prilaku Konsumen Indonesia
Tujuan dari pemasaran adalah untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan secara lebih baik dari pada pesaing. Perilaku konsumen merupakan studi Tentang cara individu, kelompok, organisasi dalam menyeleksi, membeli, menggunakan, dan mendisposisikan barang, jasa, gagasan, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Studi konsumen memberikan petunjuk untuk memperbaiki dan memperkenalkan produk atau jasa, menetapkan harga, perencanaan saluran, menyusun pesan, dan mengembangkan kegiatan pemasaran lain termasuk dalam mengetahui perilaku konsumen.
Pemasar harus sepenuhnya memahami teori maupun realitas perilaku konsumen, mencakup beberapa fakta penting tentang konsumen dan tren konsumen masa depan, seperti PT. Toyota-Astra Motor dengan mulai menganalisa pasar dengan perencanaan tren mobil keluarga ideal terbaik Indonesia.
Perilaku pembelian konsumen sebenarnya di pengaruhi oleh faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Sedangkan faktor yang paling berpengaruh dan paling luas dan paling dalam adalah faktor budaya.
Menurut Kolter, Philip, Keller, Kevin Lane factor yang mempengaruhi perilaku konsumen sebagai berikut :
• Faktor budaya
Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku pembentuk paling dasar. Anak-anak yang sedang tumbuh mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari keluarga dan lembaga-lembaga penting lainnya.
Masing-masing budaya terdiri dari sejumlah sub-budaya yang lebih menampakkan identifikasi dan sosialisasi khusus bagi para anggotanya. Sub-budaya mencakup kebangsaan, suku, agama, ras, kelompok bagi para anggotanya. Ketika sub-budaya menjadi besar dan cukup makmur, perusahaan akan sering merancang program pemasaran yang cermat disana.
• Faktor social
Selain faktor budaya, perilaku konsumen di pengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok acuan, keluarga, peran, dan status sosial. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut.
Keluarga meruapkan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga menjadi kelompok acuan primer yang paling berpengaruh.
Peran dan status sosial seseorang menunjukkan kedudukan orang itu setiap kelompok sosial yang ia tempati. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran menghasilkan status.
Contoh, seorang yang memiliki peran sebagai manajer dan status yang lebih tinggi dari pegawai kantor, dimana ia juga memiliki banyak keluarga dan anak, tentu ia akan tertarik dengan produk mobil dari Toyota, karena ada kesesuaian antara kebutuhan dan keunggulan Toyota sebagai mobil keluarga ideal terbaik Indonesia, ia bahkan juga bisa membeli pakaian mahal dan juga keluarganya, membeli rumah besar untuk keluarganya dan lain-lain.
• Faktor pribadi
Keputusan membeli juga di pengaruhi oleh karakteristik pribadi. Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, juga nilai dan gaya hidup pembeli.
• Faktor Psikologi
Titik awal untuk memahami perilaku konsumen adalah adanya rangsangan pemasaran luar seperti ekonomi, teknologi, politik, budaya. Satu perangkat psikologi berkombinasi dengan karakteristik konsumen tertentu untuk menghasilkan proses keputusan dan keputusan pembelian. Tugas pemasar adalah memahami apa yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya rangsangan pemasaran luar dengan keputusan pembelian akhir. Empat proses psikologis (motivasi, persepsi, ingatan dan pembelajaran) secara fundamental, mempengaruhi tanggapan konsumen terhadap rangsangan pemasaran.
Sedangkan menurut James F. Engel – Roger D Blackwell-Paul W. Miniart dalam saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu :
1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.
Sumber : http://ratni_itp.staff.ipb.ac.id/2012/06/07/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perilaku-konsumen/
perilaku konsumen
Karakteristik Konsumen Indonesia
Respon terhadap ulasan tentang 10 karakter unik konsumen Indonesia sungguh menarik. Konsep yang saya gagas ini dan kemudian diulas khusus secara tuntas oleh Majalah Marketing dan mendapatkan respon yang positif walau beragam. Justru, kontradiksi pendapat yang disampaikan oleh para pembaca ini memberikan nuansa yang menarik sebagai bahan untuk dikaji lebih mendalam oleh para praktisi pemasaran di Indonesia.
Memang, tambahan kata ”unik” dari judul tersebut saja sudah memancing berbagai reaksi. Sebagian besar marketer terlihat setuju dengan proposisi yang saya kemukakan dan sebagian mengatakan bahwa keunikan dari karakter ini tidaklah terlalu terlihat. Demikian pula kata “10 karakter” juga mendorong banyak pertanyaan lanjutan. Apakah hanya 10 karakter? Adakah karakter yang lain?
Apakah beberapa karakter tidak saling berhubungan?
Terlepas dari pro dan kontra, sebagian besar marketer berpendapat bahwa gagasan ini berguna untuk mempelajari lebih dalam mengenai sikap, perilaku dan kebiasaan konsumen Indonesia. Sebagian besar pembaca dan praktisi pemasaran Indonesia juga sependapat bahwa proposisi ini juga memberikan aspirasi bagi mereka untuk menformulasikan strategi yang tepat bagi pengembangan brand mereka di pasar Indonesia.
Bagi saya, setiap marketer bukan hanya perlu merenungkan apakah setiap karakter ini sesuai bila diterapkan untuk produk dan brand mereka, tetapi harus melihatnya dari perspektif yang lebih jauh. Karakter konsumen yang mencakup sikap dan perilaku, bukanlah sesuatu yang statis. Mereka juga berkembang dan berubah. Konsumen akan mempunyai persepsi yang baru, memori yang baru, dan pengalaman yang baru dalam kehidupan mereka sebagai konsumen.
Bila demikian, maka sangatlah penting bagi marketer untuk menjawab pertanyaan seperti: apakah 10 karakter konsumen Indonesia ini akan semakin menguat atau melemah? Dengan kata lain, apakah karakter tersebut akan semakin terlihat nyata atau semakin bergerak menuju arah yang berlawanan? Pertanyaan seperti ini kritikal bagi para marketer dalam menformulasikan strategi ke depan. Bila tren semakin menguat, maka marketer tentunya harus membuat semua strategi yang sesuai dengan karakter tersebut. Sebaliknya, bila tren menunjukkan perubahan karakter yang berlawanan, maka marketer akan memiliki peluang untuk memenangkan persaingan melalui strategi yang melawan karakter konsumen saat ini, tetapi sejalan dengan perubahan di masa mendatang.
Bagaimana Anda sendiri memprediksi perubahan setiap karakter? Mari kita lihat satu per satu dari 10 karakter yang melekat pada sebagian besar konsumen Indonesia.
Karakter pertama adalah konsumen Indonesia yang cenderung mempunyai memori yang pendek. Mereka adalah konsumen yang lebih fokus kepada manfaat produk jangka pendek. Mereka adalah konsumen yang pembosan dan cepat lupa. Apa tren ke depan? Saya yakin, tren yang terjadi adalah bahwa karakter ini akan semakin melemah. Dari waktu ke waktu, konsumen Indonesia akan semakin menggunakan memori jangka panjangnya. Mereka akan semakin siap untuk menerima suatu produk yang memberi manfaat jangka panjang. Bila demikian, akan ada kesempataan bagi produsen yang mengedukasi pelanggan untuk tidak hanya berpikir jangka pendek tetapi mau menerima setiap manfaat jangka panjang.
Akan ada kesempatan yang semakin besar bagi asuransi untuk menjual produk dengan manfaat jangka panjang. Pasar bagi vitamin dan makanan yang menyehatkan dalam jangka panjang akan semakin mendapatkan peluangnya. Pertanyaannya, kapan perubahan ini akan terjadi? Inilah yang akan tetap menjadi pertanyaan yang harus dijawab dari tahun ke tahun melalui riset customer insight.
Karakter kedua adalah konsumen Indonesia yang cenderung tidak memiliki perencanaan. Bagaimana trennya? Saya yakin, dalam jangka panjang, karakter ini akan semakin melemah. Dengan kata lain, karakter sebaliknya akan semakin terbangun. Konsumen Indonesia akan semakin lebih banyak menggunakan pola pembelian yang terencana. Jumlah pembelian secara impulsive akan semakin berkurang. Mereka cenderung untuk mempunyai skedul yang lebih teratur. Mereka akan terbiasa melakukan pemesanan terlebih dahulu. Jasa delivery akan semakin berkembang. Jasa yang membutuhkan pre-booking seperti airline dan hotel juga akan semakin berkembang.
Karakter ketiga adalah konsumen Indonesia yang cenderung berkelompok dan suka berumpul. Apa tren ke depan? Mudah diduga, konsumen kita akan semakin memperlihatkan karakter yang berlawanan. Mereka akan cenderung semakin individualistik. Sejalan dengan tingkat pendidikan dan kelas sosial yang semakin meningkat, maka konsumen sudah mulai membatasi kehidupannya yang berkelompok. Mereka lebih tidak mudah dipengaruhi oleh perilaku kelompok dalam menentukan produk atau jasa yang akan mereka beli dan gunakan.
Karakter keempat adalah konsumen Indonesia yang tidak adaptif terhadap teknologi baru. Dalam jangka panjang, karakter ini akan semakin berlawanan arah. Konsumen Indonesia yang memiliki tingkat pendidikan yang semakin tinggi, sudah pasti akan semakin adaptif terhadap teknologi tinggi. Penetrasi teknologi tinggi akan semakin cepat. Kelompok early adopter akan semakin besar. Tapi, hal ini akan berlaku untuk generasi yang akan datang. Jadi, paling tidak dibutuhkan 10 tahun lagi untuk melihat konsumen Indonesia yang adaptif terhadap teknologi tinggi seperti konsumen di Singapura.
Karakter kelima adalah konsumen Indonesia yang cenderung fokus kepada konteks dan bukan konten. Ini terjadi karena konsumen kita tidak mencerna jumlah informasi yang memadai sebelum memutuskan untuk memilih dan membeli suatu produk. Dalam jangka panjang, karakter ini akan semakin melemah. Mereka akan mencerna informasi lebih banyak dan mereka akan menjadi konsumen yang semakin pandai dalam melakukan evaluasi. Ini terjadi karena konusmen kita cenderung untuk membaca media cetak lebih banyak.
Karakter keenam adalah konsumen Indonesia yang menyukai produk luar negeri. Kalau kelima karakter sebelumnya memiliki tren yang berlawanan atau karakter yang ada semakin melemah, maka untuk karakter keenam ini, saya yakin, akan semakin kuat di masa mendatang. Konsumen Indonesia semakin tidak percaya akan kemampuan produk dalam negeri. Mereka semakin menyukai produk impor atau produk yang memiliki embel-embel luar negeri. Mereka semakin percaya bahwa produk luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik. Selain itu, konsumen Indonesia yang mempunyai rasa nasionalisme yang tipis, juga akan mendorong karakter keenam ini justru semakin menguat.
Karakter ketujuh adalah konsumen yang semakin memperhatikan masalah religius. Sama seperti karakter keenam, maka karakter yang ketujuh ini juga cenderung akan semakin kuat. Pangsa pasar dari produk-produk yang mempunyai nilai-nilai agama akan semakin besar. Konsumen Indonesia akan semakin sensitif terhadap agama dan kepercayaan yang mereka anut. Bank syariah akan semakin maju. Produk seperti buku, musik, makanan, telekomunikasi, dan bahkan media yang membawa pesan-pesan keagamaan akan semakin mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Karakter kedelapan adalah konsumen yang suka pamer dan gengsi. Karakter ini juga akan semakin menguat. Tren ke depan akan semakin memperlihatkan konsumen Indonesia yang senang mendapat pujian dari lingkungan sekitarnya untuk masyarakat bawah. Mereka akan memamerkan produk yang mereka beli di mana sebagian masyarakat tidak mampu membelinya. Golongan atas akan memperhatikan status mereka. Mereka tetap akan membeli mobil yang memberi kesan mewah. Mereka akan membeli produk-produk branded yang memberikan perasaan gengsi kepada mereka
Karakter kesembilan, yaitu konsumen Indonesia yang banyak dipenagruhi oleh subculture? Konsumen Indonesia akan semakin memperlihatkan persamaan daripada perbedaaan karena suku dan geografis. Mobilitas akan semakin meningkat sehingga mereka cepat belajar keragaman di antara konsumen yang lain. Kekuatan produk-produk nasional yang semakin mengkikis kekuatan produk-produk lokal juga menjadi penyebab konsumen Indonesia akan cenderung sama untuk semua daerah dan suku. Globalisasi juga akan mempercepatnya proses persamaan ini terutama untuk segmen anak muda dan affluent. Mereka cenderung tidak banyak dipengaruhi oleh adat-istiadat atau kebiasaaan daerah mereka dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk dan layanan.
Karakter kesepuluh, yaitu konsumen Indonesia yang tidak peduli terhadap lingkungan, akan mengalami tren sebaliknya. Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan dan juga tekanan globalisasi, maka kosnumen Indonesia akan semakin memerhatikan lingkungan. Walaupun demikian, saya yakin, prosesnya akan lama. Minimal, dibutuhkan waktu selama 15 hingga 20 tahun untuk menciptakan konsumen Indonesia yang mempunyai kesadaran lingkungan seperti negara-negara yang relatif maju. Mungkin dibutuhkan lebih dari 30 tahun untuk membuat kesadaran terhadap lingkungan seperti konsumen di Amerika.
Inilah pandangan saya terhadap karakter konsumen Indonesia dan tren-nya di masa mendatang. Bila tren menunjukkan bahwa karakter yang ada akan semakin melemah, maka Anda bisa memikirkan strategi yang melawan karakter yang ada karena segmen dengan karakter sebaliknya akan bertumbuh. Bila karakter semakin menguat, maka sebaliknya Anda melakukan semua strategi yang konsisten dengan karakter yang ada. Pertanyaan yang kritikal adalah seberapa cepat perubahan karakter ini akan terjadi? Waktu sajalah yang akan membuktikan. Tugas kita sebagai marketer adalah untuk memprediksi kecepatan karakter konsumen untuk berubah.
sumber : http://www.marketing.co.id/blog/2012/01/21/10-karakter-unik-konsumen-indonesia/
Sabtu, 17 November 2012
Perilaku Konsumen
Defining Customer Innovation
Customer innovation incorporates a number of emerging
concepts and practices that help organisations address the challenge of growth
in the age of the empowered and active customer (both business and consumer).
It demands new approaches to innovation and strategy-making that emphasise
rapid capability development, fast learning, ongoing experimentation and
greater levels of collaboration in value-creation. Customer innovation impacts
upon all the following activities, functions and disciplines:
Marketing strategy and management
Brand strategy and management
Communications strategy
Customer experience design and delivery
Customer relationship management
Customer service design and quality management
Market-sensing and customer learning
Market and customer segmentation
Creativity and knowledge management including market research
Partner and customer collaboration
Organisational alignment and purpose (values, behaviour and beliefs)
Innovation strategy and management
Innovation valuation, measurement and prioritisation
Strategy-making
Brand strategy and management
Communications strategy
Customer experience design and delivery
Customer relationship management
Customer service design and quality management
Market-sensing and customer learning
Market and customer segmentation
Creativity and knowledge management including market research
Partner and customer collaboration
Organisational alignment and purpose (values, behaviour and beliefs)
Innovation strategy and management
Innovation valuation, measurement and prioritisation
Strategy-making
For me customer innovation is not only an important
perspective on value-creation but a whole new strategy discipline that
organisations must embrace if they are to pursue growth successfully in the
future. Put another way, customer innovation impacts the fundamental means by
which value is created and growth sustained.
One of the difficulties I encounter when explaining
the concept is that the "Innovation" word is traditionally associated
with products and technology. There is a section in The Only Sustainable Edge by Hagel and
Seely Brown that eloquently defines Innovation from a much broader
organisational and strategic perspective:
We underscore the importance of innovation but we use
the term more broadly than do most executives. Executives usually think in
terms of product innovation as in generating the next wave of products that
will strengthen market position. But product-related change is only one part of
the innovation challenge. Innovation must involve capabilities; while it can
occur at the product and service level, it can also involve process innovation
and even business model innovation, such as uniquely recombining resources,
practices and processes to generate new revenue streams. For example, Wal-Mart
reinvented the retail business model by deploying a big-box retail format using
a sophisticated logistics network so that it could deliver goods to rural areas
at lower prices.
Innovation can also vary in scope, ranging from
reactive improvements to more fundamental breakthroughs... One of the biggest
challenges executives face is to know when and how to leap in capability
innovation and when to move rapidly along a more incremental path. Innovation,
as we broadly construe it, will reshape the very nature of the firm and
relationships across firms, leading to a very different business landscape.
Example for consumer
innovativenss
The projected sales potential for Internet commerce
indicates that businesses must understand those consumer characteristics that
will influence consumer adoption of this medium for shopping. An empirical
study conducted here (n = 403) investigates the extent to which open-processing
(more general innovativeness) and domain-specific innovativeness explain the
conditions under which consumers move from general Internet usage to a product
purchase via the Internet. The results of our study find that generally higher
amounts of Internet use (for non-shopping activities) are associated with an
increased amount of Internet product purchases. Importantly, however, this
relationship is moderated by domain-specific but not general innovativeness.
Implications for business practice and academic research are provided.
Compulsive Consumption Consumer
O'Guinn & Faber (1989:148) defined compulsive
consumption as “a response to an uncontrollable drive or desire to obtain, use
or experience a feeling, substance or activity that leads an individual to
repetitively engage in a behaviour that will ultimately cause harm to the
individual and/or others.” Research has been carried out to provide a
phenomenological description to determine whether compulsive buying is a part
of compulsive consumption or not. The conclusion reached after analysing both
qualitative and quantitative data stated that compulsive buying resembles many
other compulsive consumption behaviours like compulsive gambling, kleptomania
and eating disorders (O' Guinn & Faber, 1989:147). Hassay & Smith
(1996) hold a similar view and refer to compulsive buying as a form of
compulsive consumption as well. Besides personality traits, motivational
factors also play a significant role in determining the similarities between
compulsive buyers and normal consumers. According to O'Guinn & Faber
(1989:150), if compulsive buying is similar to other compulsive behaviours it
should be motivated by “alleviation of anxiety or tension through changes in
arousal level or enhanced self-esteem, rather than the desire for material
acquisition.” Hassay & Smith (1996) also agree with the above inference and
concluded from their research that “compulsive buying is motivated by
acquisition rather than accumulation.”
Example Compulsive Consumption Consumer
Another form of compulsive personality is compulsive
buying disorder. Compulsive buying is different from regular consumers and
different from hoarding because it is about the process of buying.It is not
about the items bought. In fact, these items are usually never used and are
just put away.They are only bought purely for the sake of buying. People who
are addicted to buying describe it as a high or say that it gives them a
buzz.Often, when someone suffering from this is depressed, they will go out and
buy items to make themselves feel better. However, compulsive buying has
negative effects which include financial debt, psychological issues, and
interpersonal and marital conflict.To those who suffer from compulsive buying,
to them, the act is the same as using a drug.
Consumer Ethnocentrism
Consumer ethnocentrism gives individuals an
understanding of what purchases are acceptable to the in-group, as well as
feelings of identity and belonging. For consumers who are not ethnocentric, or
polycentric consumers, products are evaluated on their merits exclusive of
national origin, or possibly even viewed more positively because they are
foreign (Shimp & Sharma, 1987; Vida & Dmitrovic, 2001).Brodowsky (1998)
studied consumer ethnocentrism among car buyers in the U.S. and found a strong
positive relationship between high ethnocentrism and country-based bias in the
evaluation of automobiles. Consumers with low ethnocentrism appeared to
evaluate automobiles based more on the merits of the actual automobile rather
than its country of origin. Brodowsky suggests that understanding consumer
ethnocentrism is critical in understanding country of origin effects.Several
antecedents of consumer ethnocentrism have been identified by various studies.
Consumers who tend to be less ethnocentric are those who are young, those who
are male, those who are better educated, and those with higher income levels
(Balabanis et al., 2001; Good & Huddleston, 1995; Sharma et al., 1995).Balabanis
et al. found that the determinants of consumer ethnocentrism may vary from
country to country and culture to culture. In Turkey, patriotism
was found to be the most important motive for consumer ethnocentrism. This, it
was theorized, was due to Turkey's collectivist culture, with patriotism being
an important expression of loyalty to the group.
Example for consumer ethnocentrism
for example ethnocentrism is the center of everything, and all others are scaled and rated with reference to it. He further characterized it as often leading to pride, vanity, beliefs of one's own group's superiority, and contempt of outsiders.Robert K. Merton comments that Sumner's additional characterization robbed the concept of some analytical power because, Merton argues, centrality and superiority are often correlated, but need to be kept analytically distinct.Anthropologists such as Franz Boas and Bronislaw Malinowski argued that any human science had to transcend the ethnocentrism of the scientist. Both urged anthropologists to conduct ethnographic fieldwork in order to overcome their ethnocentrism. Boas developed the principle of cultural relativism and Malinowski developed the theory of functionalism as guides for producing non-ethnocentric studies of different cultures. The books The Sexual Life of Savages in North-Western Melanesia, by Bronisław Malinowski, Patterns of Culture by Ruth Benedict, and Coming of Age in Samoa by Margaret Mead (two of Boas's students) are classic examples of anti-ethnocentric anthropology.
sumber :
http://chrislawer.blogs.com/chris_lawer/2005/10/defining_custom.html
http://www.businessteacher.org.uk/free-marketing-essays/compulsive-buying/
http://en.wikipedia.org/wiki/Consumer_ethnocentrism
Example for consumer ethnocentrism
for example ethnocentrism is the center of everything, and all others are scaled and rated with reference to it. He further characterized it as often leading to pride, vanity, beliefs of one's own group's superiority, and contempt of outsiders.Robert K. Merton comments that Sumner's additional characterization robbed the concept of some analytical power because, Merton argues, centrality and superiority are often correlated, but need to be kept analytically distinct.Anthropologists such as Franz Boas and Bronislaw Malinowski argued that any human science had to transcend the ethnocentrism of the scientist. Both urged anthropologists to conduct ethnographic fieldwork in order to overcome their ethnocentrism. Boas developed the principle of cultural relativism and Malinowski developed the theory of functionalism as guides for producing non-ethnocentric studies of different cultures. The books The Sexual Life of Savages in North-Western Melanesia, by Bronisław Malinowski, Patterns of Culture by Ruth Benedict, and Coming of Age in Samoa by Margaret Mead (two of Boas's students) are classic examples of anti-ethnocentric anthropology.
sumber :
http://chrislawer.blogs.com/chris_lawer/2005/10/defining_custom.html
http://www.businessteacher.org.uk/free-marketing-essays/compulsive-buying/
http://en.wikipedia.org/wiki/Consumer_ethnocentrism
Sabtu, 27 Oktober 2012
Perilaku konsumen
Perilaku konsumen
Nama : ahmad faizal hariansyah
Kelas : 3EA14
NPM : 10210370
Evaluasi Alternatif
Philip
kotler mengemukakan,
“Konsumen mempelajari merek-merek yang tersedia dan ciri-cirinya. Informasi ini
digunakan untuk mengevaluasi semua alternatif yang ada dalam menentukan
keputusan pembeliannya”(1998:170).
Menurut
Sutisna, “Setidak-tidaknya
ada dua kriteria evaluasi alternatif. Pertama adalah manfaat yang diperoleh
dengan membeli produk. Kedua, kepuasan yang diharapkan”(2001:22).
Berdasarkan
pendapat-pendapat tersebut, ketika berbagai alternatif telah diperoleh,
konsumen melakukan evaluasi alternatif. Evaluasi altenatif tersebut, dalam
keberadaanya ditentukan oleh keterlibatan konsumen dengan produk yang akan
dibelinya.
Pada intinya
setiap perusahaan di dalam menjalankan usahanya bertujuan untuk mendapatkan laba
sesuai dengan tujuan pokok yang diharapkan. Diantaranya yaitu agar perusahaan
dapat menjaga kelangsungan hidup serta kelancaran operasinya. Hal ini tentunya
bisa tercapai dengan mengaktifkan dan mengefisienkan kerja perusahaan.
Sebagaimana kita ketahui, dunia usaha sekarang ini banyak menghadapi adanya persaingan. Persaingan antar perusahaan sejenis baik yang bersifat positif maupun bersifat negatif. Oleh karena itu perusahaan yang ingin hidup dan berkembang harus memperhatikan kemampuan perusahaan dalam memenuhi serta memuaskan kebutuhan konsumen, khususnya disini pelayanan. Dengan semakin ketatnya persaingan dan semakin selektifnya konsumen dalam memilih produk yang tersedia di pasar, hingga konsumen harus benar-benar teliti dalam pembelian suatu barang. Apakaha barang itu bisa digunakan dalam jangka pajang? Apakah memiliki manfaat yang beasar ? dan masih banyak lagi terlihar juga dari segi kulitas dan kualitatif sehingga membuat perusahaan harus semakin bekerja keras untuk dapat meraih targetnya dan mempertahankan konsumen untuk bisa kembali lagi membeli di produk di perusahaan itu.
Sebagaimana kita ketahui, dunia usaha sekarang ini banyak menghadapi adanya persaingan. Persaingan antar perusahaan sejenis baik yang bersifat positif maupun bersifat negatif. Oleh karena itu perusahaan yang ingin hidup dan berkembang harus memperhatikan kemampuan perusahaan dalam memenuhi serta memuaskan kebutuhan konsumen, khususnya disini pelayanan. Dengan semakin ketatnya persaingan dan semakin selektifnya konsumen dalam memilih produk yang tersedia di pasar, hingga konsumen harus benar-benar teliti dalam pembelian suatu barang. Apakaha barang itu bisa digunakan dalam jangka pajang? Apakah memiliki manfaat yang beasar ? dan masih banyak lagi terlihar juga dari segi kulitas dan kualitatif sehingga membuat perusahaan harus semakin bekerja keras untuk dapat meraih targetnya dan mempertahankan konsumen untuk bisa kembali lagi membeli di produk di perusahaan itu.
Dengan
banyaknya pesaing, perusahaan dituntut untuk mendapatkan pangsa pasar dengan
jalan menentukan dan memilih langkah-langkah yang tepat di dalam hal pemasaran.
Dengan adanya persaingan seperti ini perusahaan-perusahaan harus mampu memilih
strategi yang tepat untuk memasarkan hasil produknya, sehingga setiap
perusahaan harus berkompetisi dalam menentukan kebijakan yang akan diambil dan
dilakukan untuk memenangkan pasar.
Untuk
mencapai tujuan hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan yang diambil oleh
pihak manajemen baik dalam bidang produksi, keuangan maupun pemasaran. Karena
suatu keputusan yang diambil oleh pihak perusahaan akan menentukan bagi
jalannya suatu perusahaan. Keputusan yang tepat akan menunjang operasional
dalam mencapai tujuan dan sebaliknya keputusan yang tidak tepat dapat
menghambat tujuan perusahaan atau bahkan dapat menghancurkan perusahaan itu
sendiri. Adapun Tujuan kegiatan pemasaran yang harus kita pahami terlebih
dahulu adalah mempengaruhi pembeli untuk bersedia membeli barang dan jasa
perusahaan pada saat mereka membutuhkan. Keputusan membeli pada dasarnya
berkaitan dengan “mengapa” dan “bagaimana” tingkah laku konsumen
TIGA FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PILIHAN KONSUMEN
1. Konsumen Individu
Pilihan
merek dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen, persepsi atas karakteristik merek,
dan sikap ke arah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh
demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.
2. Pengaruh Lingkungan
Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh budaya (norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesukuan), kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen), grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup referensi) dan faktor menentukan yang situasional (situasi dimana produk dibeli seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha).
3. Marketing strategy
Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah barang, harga, periklanan dan distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen. penelitian pemasaran memberikan informasi kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek. Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen.
Sumber :
Google
Blogger
Contoh evaluasi alternatif pembelian
Seorang pesepakbola membutuhkan sepatu yang cocok
untuk ia gunakan. Saat itu ia langsung menuju toko peralatan olahraga dan
mencari informasi kepada penjaga toko tentang sepatu yang memiliki kualitas
yang bagus dan nyaman untuk digunakan. Sesuai dengan kebutuhannya ia mencari
sepatu yang memiliki kualitas yang baik tetapi dengan harga yang murah. Akhirnya
ia memilih sepatu dengan brand yang cukup terkenal yang memiliki kualitas yang
tidak kalah dengan sepatu brand yang lain tetapi dengan harga yang lebih murah.
Langganan:
Postingan (Atom)